Bagiku Braga selalu punya cerita tersendiri tiap kali aku mendatanginya. Sampai saat ini pun, ketika aku melewati Braga selalu datang kejadian yang bisa untuk aku diceritakan.
Saat itu, pada tanggal 5 September 2019 aku dan teman - teman kampusku pergi ke Braga untuk menonton film. Tadinya kami akan menonton IT, karena penuh kami ganti menjadi Ready Or Not. Membawa beberapa ciki, dan minuman berasa kami siap menonton film yang tidak aku suka. Ya, aku tidak suka film thriller. Pembunuhan, darah, adanya adegan tusuk - tusukan aku sangat membenci adegan - adegan seperti itu. Tapi, ya, mau gak mau karena sudah membeli tiket aku harus nonton.
Sesudahnya tentu saja kami tidak langsung pulang. Kami menikmati masa - masa dimana kami sering kumpul bersama, yang membuat aku rindu beberapa kali. Kami berjalan menu Indomaret Point. Kami juga membeli kopi di Point Coffee, mumpung lagi ada promo. Lalu kami memulai obrolan kami dengan candaan, yang berakhir dengan obrolan yang lebih mendalam. Kami menceritakan sisi gelap kami masing - masing. Aku bersyukur saat itu mereka tidak malu untuk menceritakan salah satu aib dari hidup mereka. Disela - sela cerita, adanya telepon masuk dari ponsel Dylan. Salah satu temanku. Sang ibu menelepon Dylan dengan serius. Kami melanjutkan kegiatan dengan bercanda. Tertawa bersama, aku membuat video instastory, Harvis yang pergi ke kamar mandi, dan lain - lain. Kegiatan Dylan terhenti, ia berjalan kembali ke arah kami. Kami bertanya: "Ada apa?" Ia hanya menggeleng sembari menjawab: 'Biasa, indung urang.' Kami hanya mengangguk. Kami melanjutkan cerita kami yang sempat terhenti.
Ketika jam menunjukkan pukul 11 malam, kami bersiap untuk pulang. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Dalam hati aku berpikir, aku akan merindukan momen ini. Dan benar, sekarang aku merindukan ketika aku berkumpul dengan keempat teman bodohku itu.
Ketika aku melewati Braga, aku melihat ke arah lantai dua Indomaret Point. Aku seperti merasakan adanya sosok mereka disitu. Aku tersenyum kecil. Sudah susah bagi kami untuk berkumpul kembali, karena untuk bertemu di kampus pun sudah sulit dilakukan.

Comments
Post a Comment